Jumat, 12 Agustus 2011

Halaman Persembahan Karya Tulis Ane :)


Special Thanks To:

Allah SWT, Tuhanku sang Pemberi Rizki yang tidak pilih kasih, terima kasih yaa Rabb.. akhirnya perjuanganku dalam salah satu bagian kehidupan ini telah usai. Jika ini semua tanpa kehendakMu semua ini takkan terjadi. Meski terkadang aku kufur, Engkau tak pernah berhenti mengucurkan nikmatMu untukku dan keluargaku Ya Raab. Allah, dalam proses ini, aku belajar kesabaran aku belajar untuk tenang. Ternyata inilah hidup segala prosesnya membawa pada tingkat yang lebih tinggi. Meski aku belum sepenuhnya bisa sabar dan tenang Ya Rabb. Allah perbanyaklah nikmatMu agar aku terus dapat mempelajari ilmuMu, ilmu yang bermanfaat untuk semua, untuk manusia bumi dan segala kompleksitasnya. Luruskanlah niatku ya Rabb, Ijabahkanlah, Amin.

Nabi Muhammad SAW, sosok manusia yang mulia yang tak pernah sedikitpun ada penyesalan menjadi hamba pembawa kebenaran dan penerangan, walaupun halangan dan cobaan menimpa beliau. Terima kasih atas ajaran keselamatan yang engkau bawa dan kunanti Syafaatmu kelak di hari Pembalasan.

Yogyakarta, ketika pertama kali aku menginjakkan kakiku di tanah Jawa, Kota inilah yang menjadi pijakan. Terkesan pertama kali ketika melihat senyum ramah warganya, indah panorama kotanya walaupun sempat tidak suka dengan makanannya. Jogja Never Ending Asia, slogan yang pas untukmu, disini kukejar cita-citaku, disini kukenal dengan orang-orang yang mulia, dan disini aku mengenal dunia luar yang sebenarnya. I love you Jogja, Kota keduaku, Kota yang penuh dengan kenangan.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, kenangan mulai dari daftar mahasiswa baru, MATAF, belajar dikelas sampai dibilang angkatan tua, kampus inilah jadi naunganku. Dikampus tercinta ini pula aku bisa bertatap muka dan berpose dengan mantan petinggi Negara dan pejabat Negara, mulai dari Adhyaksa Dault, Akbar Tanjung, Amien Rais, Jussuf Kalla, Din Syamsudin, Boediono serta BJ. Habibie. Hahahaha…
Dikampus ini pula aku banyak bertemu dengan orang-orang “Gila” apathies, sok-sok-an serta bertemu dengan orang-orang cerdas. Terima kasih UMY, pencerahanmu membuat otakku terbuka dengan hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya, ilmu yang engkau berikan lewat dosen-dosenmu tidak pernah akan kulupakan, apalagi setelah melihat rate PTS di jogja, engkaulah yang terbaik dan tetap Nomer Satu serta Nomer Dua di Indonesia. Josss…
Tidak lupa juga aku ucapin terima kasih buat suguhan Kantin dan Kopma mu, apalagi disana adalah pijakan terakhir kalau lagi tanggal tua. Sekali lagi terima kasih UMY, terima kasih Fisipol, dan Terima kasih Muhammadiyah.

Geng-geng HI 2007, kalian adalah candu hatiku, kalian adalah serbuk yang terus menghantuiku, kalian adalah penyemangat hidupku. Betapa rindunya aku kalau kalian udah gak ada disampingku, tawa dan canda kalian sesungguhnya sangat “jelek”, tapi itu yang buat aku terharu apabila ingat kalian.
Kenangan manis dikelas, ejek-ejek dosen, nyontek pas ujian, ke kantin pas jam belajar, titip absen apabila males masuk kuliah sampe pacaran sesama 07, tidak akan aku lupakan kawan!! Masa-masa seneng sepedaan, ampe buat HI 07 WITH BICYCLE terek-terekan tiap hari jum’at yang bikin jalanan Jogja padat, abis itu ngumpul di depen BI dan Kantor Pos, minum teh, makan Nasi Kucing ampe pose-pose gaya model. Masa-masa seneng Futsal, ampe buat HI 07 FUTSAL maen futsal malem-malem di Faivji Ball, gaya maen yang sok Piala Dunia, sesama temen bukan nendang bolanya, malah nendang kakinya. Apalagi kalo Sparing ama anak luar, pasti ujung-ujungnya Berantem.. hahahahaha. Kalo lagi boring, pergi ke studio music ama THE LAKATIPANG BAND kalo mau music yang agak mellow, kalo gak ama TUTAOZENSEVEN BORED ORCHESTRA yang bergenre Blues dan Rock’n Roll, pokoknya top deh, coba kalo di seriusin bakalan masuk Indie Jogja.. hahaha
Kawan-kawanku!! Apabila kita sudah pisah semua, jangan lupain aku ya, kan aku anak 07 yang paling imut dan gemesin, coba kalo aku gak ada, 07 gak bakalan rame. Kita memang tidak pernah melakukan hal yang besar, tapi bisa membuat hal yang kecil dengan cinta yang besar. I love you all, kalian tidak akan pernah kulupakan.

FKML-DIY, ini nih yang bikin aku betah di Jogja, kalo ama mereka ni serasa di Lombok, tiap hari pake bahasa Sasak. Mulai nginjak Jogja aja mereka udh jadi saudara-saudaraku. Makasih ya buat Bang Arif, Abenk, Alan, Alfian, Fahmi, Dewi dsb. Sorry aku gak bisa ucapin satu-satu, terlalu banyak, tapi Joss selalu deh buat kalian. Untuk pengurus sekarang, aku juga ngucapin makasih banyak, terutama buat Ridho, Jali, Iqbal, Wawan, Didik, Alan, Anto dsb, yang selalu nyiapin sesuatu kalo aku lagi boring, ngundang aku kalo lagi ada pesta kecil-kecilan, makasih ya sob, kalian emang luar biasa perhatian sama aku, aku sayang kalian.

Perslotim-Jogja, Joss selalu buat kalian, lanjutkan tradisi kita sebagai klub Bola dan Futsal terbaik di Jogja, aku pasti rindukan kalian, walaupun aku udah pensiun dari situ.. hahaha

Cah-cah Kost, nah kalo yang ini bikin ngakak tiep hari, jadi hidup lebih berasa, kost yang kumuh tapi luar biasa yang menjadi Rumah selama di Jogja.
Begadang tiep malem, makan bareng, Jomblo bareng, pacaran bareng, maen PS bareng, OL bareng beruntung gak mandi bareng. Haha… makasih ya buat Aji Purba, Syai Lubis, Budi Kebumen, bang Sukardi S.IP, mas Adi S.H, bapak dan ibu kost yang rewel dan pelit, makasih buat kalian semua, kapan-kapan kalo aku mampir ke jogja, aku nginep di Kost ini ya.

Kamis, 30 Juni 2011

Ngakak.. Mariii

 Hehehehehe... see u, ntar kalo udah Skripsi kelar, kita curhat lagi.....
 Skripsi.. ooohh Skripsi....
SKRIPSHIT OR SKRIPSWEET???
CHOOSE... for better future!!!

Minggu, 22 Mei 2011

Teori Pembuatan-Keputusan (Decision Making Teory) ala William D. Coplin dan Konsep Kepentingan Nasional (National Interest) ala Hans J. Morghentau

Teori Pembuatan-Keputusan menurut William D. Coplin adalah:

“…Apabila kita akan menganalisa kebijakan luar negeri suatu negara, maka kita harus mempertanyakan para pemimpin negara dalam membuat kebijakan luar negeri. Dan salah besar jika menganggap bahwa para pemimpin negara (para pembuat kebijakan luar negeri) bertindak tanpa pertimbangan (konsiderasi). Tetapi sebaliknya, tindakan luar negeri tersebut dipandang sebagai akibat dari tiga konsiderasi yang mempengaruhi para pengambil kebijakan luar negeri…”.

William D. Coplin menjelaskan tentang tiga Konsiderasi sebagaimana yang disebutkan diatas yaitu:

Pertama, kondisi politik dalam negeri suatu negara termasuk faktor budaya yang mendasari tingkah laku politik manusianya.

Kedua, situasi ekonomi dan militer suatu negara tersebut, termasuk faktor geografis yang selalu menjadi pertimbangan utama dalam hal pertahanan dan keamanan.

Ketiga, konteks internasional, situasi di negara yang menjadi politik luar negeri serta pengaruh dari negara-negara lain yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.

Pandangan Hans J. Morgenthau tentang Kepentingan Nasional adalah kemampuan minimum negara-bangsa adalah melindungi identitas fisik, identitas politik, dan identitas kulturalnya dari gangguan Negara-bangsa lain.
Morgenthau menjelaskan kembali lebih detail maksud yang diatas yaitu:

1. Negara-bangsa harus bisa mempertahankan Integritas teritorialnya (yaitu Identitas Fisiknya)

2. Negara-bangsa harus bisa Mempertahankan rezim ekonomi-politiknya (yaitu Identitas Politiknya)

3. Negara-bangsa harus bisa Memelihara norma-norma etnis, religius, linguistik dan sejarahnya (yaitu Identitas Kulturalnya)

Pemikiran Morgenthau didasarkan pada premis bahwa strategi diplomasi harus didasarkan pada Kepentingan Nasional, bukan pada alasan-alasan moral, legal dan ideologi yang dianggapnya utopis dan bahkan berbahaya. Ia menyatakan Kepentingan Nasional setiap negara adalah mengejar kekuasaan (membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu negara ke negara lain). Untuk itu beliau menganggap konsep Kepentingan Nasional sebagai sarana sekaligus tujuan dari tindakan politik internasional.

Kamis, 04 November 2010

Tuhan Pasti Sayang Hambanya Yang Sedang Kebingungan

Mulai bercerita di hawa dingin yang menyelimuti kota Yogyakarta, kala ini perasaan cuma bisa was-was, padahal secangkir jahe hangat, rokok 1 bungkus, dan canda tawa teman-teman kos, belum bisa menghiburku. Hari ini, merapi meletus lagi disertai hujan abu sampai ke jawa barat-jawa timur, beruntung di kota jogja Tuhan hanya menghadirkan air hujan, tapi kekhawatiran ku kembali memuncak saat ada ancaman lahar dingin oleh Merapi yang meletus. Aku termenung, bagaimana nasib para pengungsi di Sleman, sudah seminggu lebih mereka meninggalkan kampung halamannya demi keselamatan raga mereka.
Cuma bisa termenung, sedih, was-was, kecewa, bingung, halaaaah semuanya dah....
Kebingungan memuncak saat membuka kembali laptop ini dan berhadapan sama Google yang menyentak ku agar mencari bahan-bahan skripsi.. Kasur empuk ku tertawa melihat tingkahku saat menidurinya, edddan, kok bisa kyk gini fikir ku, knp gak ada satu ketenangan yg bisa mengelus ku..
Kembali mengetik kata demi kata, kali ini aku ingin mencari bahan buat skripsi ku... Busyyyettttttt.... tab warna biru berlambangkan huruf "F" menggodaku untuk menuliskan status, alamaaak... otak ruwet lagi, ada apa ya? ketenangan belum ada, terus gimana caranya buat nenangin ni otak biar gak sedongkol ini.......
Otak blank, suara gemuruh hujan, suara gemuruh merapi, bikin sakit jiwa aja.
Tapi aku yakin, tuhan akan memberikan jalan keluar untuk ku, tapi entah sampai kapan aku gak tau, tapi Dia yg tahu...
Semangat...... merapi bukan alasan untuk tidak tetap bersyukur, malah bencana ini adalah sebuah anugerah bagiku untuk tetap tunduk kepada-Nya. dan Dia-lah yang Maha Penyayang bagi hambanya.

Sabtu, 21 Agustus 2010

PENGERTIAN SEKULARISME

Menurut Ensiklopedi Britania, menyebutkan bahwa “sekularisme” adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan dari kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi kepada dunia. Gerakan ini dilancarkan karena pada abad-abad pertengahan, orang sengat cenderung kepada Allah dan hari akhirat dan menjauhi dunia. Sekularisme tampil untuk menghadapinya dan untuk mengusung kecendrungan manusiayang pada abad kebangkitan, orang menampakkan ketergantungan yang besar terhadap aktualisasi kebudayaan dan kemanusiaan dan kemungkinan terealisasinya ambisi mereka terhadap dunia.
Lalu orientasi kepada sekularisme yang merupakan gerakan perlawan terhadap agama dan ajaran Masehi terus berlanjut di celah-celah sejarah modern seluruhnya.

Di Kamus Dunia Baru oleh Wipster merinci makna Sekularisme dengan menyebutkan sebagai berikut, Yaitu:
Semangat Keduniaan atau orientasi “duniawi” dan sejenisnya. Secara khusus adalah undang-undang dari sekumpulan prinsip dan prakterk (practices) yang menolak setiap bentuk keimanan dan ibadah.
Keyakinan bahwa agama dan urusan-urusan gereja tidak ada hubungannya sama sekali dengan soal-soal pemerintahan, terutama soal pendidikan umum.

Di Kamus Oxford menyebutkan sebagai berikut,
Sekularisme artinya bersifat keduniaan atau materialisme, bukan keagamaan atau keruhaniaan. Seperti pendidikan sekuler, seni atau musik sekuler pemerintahan sekuler, pemerintahanyang bertentangan dengan gereja.
Sekularisme adalah pendapat yang mengatakan bahwa agama tidak layak menjadi fondasi ahlak dan pendidikan.

Sementara di Kamus Internasional Modern ketiga menyebutkan:
Sekularisme ialah suatu pandangan dalam hidup atau dalam satu masalah yang berprinsip bahwa agama atau hal-hal yang bernuansa agama tidak boleh masuk ke dalam pemerintahan, atau pertimbangan-pertimbangan keagamaan harus dijauhkan darinya. Maksudnya adalah: Politik sekuler murni dalam pemerintahan, misalnyayang terpisah sama sekali dari agama.

Sekularisme juga adalah undang-undang akhlak sosial yang berlandaskan pemikiran yang mewajibkan ditegakkannya nilai-nilai prilaku dan moral menurut kehidupan modern dan solidaritas sosial tanpa memangdang kepada agama.
Adapun seorang orientalis bernama Arberriy dalam bukunya, Ad-Dien fi Asy-Syarqi Al-Awsath, mengatakan berkenaan dengan sekularisme sebagai berikut,
Materialisme sekuler dan humanistik serta aliran naturalisme semuanya merupakan bentuk dari sekularisme sebagai ciri khas Eropa dan Amerika yang fenomenanya tampak di Timur tengah. Ia tidak membuat satu model pun dalam filsafat atau etika tertentu? Contoh utamanya adalah pemisahanagama dari pemerintahan pada Republik Turki.

Kesimpulan
Sekularisme ialah memisahkan agama dari kehidupan individu atau sosial dalam artian agama tidak boleh ikut berperan dalam pendidikan, kebudayaan maupun dalam hukum.
Dengan kata lain: Sekularisme ialah memisahkan Allah Ta’ala dari hukum dan undang-undang mahluk-Nya. Allah tidak boleh ikut mengatur mereka seakan-akan tuhan mereka adalah diri mereka sendiri, berbuat sesukanya dan membuat hukum sesuai seleranya.

Kamis, 19 Agustus 2010

Hargai Apa Yang Kita Miliki

Pernahkah kalian mendengar kisah Helen Kehler?
Dia adalah seorang perempuan yang dilahirkan
dalam kondisi buta dan tuli.

Karena cacat yang dialaminya, dia tidak bisa
membaca, melihat, dan mendengar. Nah, dlm
kondisi seperti itulah Helen Kehler dilahirkan.

Tidak ada seorangpun yang menginginkan
lahir dalam kondisi seperti itu. Seandainya
Helen Kehler diberi pilihan, pasti dia akan
memilih untuk lahir dalam keadaan normal.

Namun siapa sangka, dengan segala
kekurangannya, dia memiliki semangat hidup
yang luar biasa, dan tumbuh menjadi seorang
legendaris.

Dengan segala keterbatasannya, ia mampu
memberikan motivasi dan semangat hidup
kepada mereka yang memiliki keterbatasan
pula, seperti cacat, buta dan tuli.

Ia mengharapkan, semua orang cacat seperti
dirinya mampu menjalani kehidupan seperti
manusia normal lainnya, meski itu teramat sulit
dilakukan.

Ada sebuah kalimat fantastis yang pernah
diucapkan Helen Kehler:

"It would be a blessing if each person
could be blind and deaf for a few days
during his grown-up live. It would make
them see and appreciate their ability to
experience the joy of sound".

Intinya, menurut dia merupakan sebuah anugrah
bila setiap org yang sudah menginjak dewasa
itu mengalami buta dan tuli beberapa hari saja.

Dengan demikian, setiap orang akan lebih
menghargai hidupnya, paling tidak saat
mendengar suara!

Sekarang, coba kita bayangkan sejenak....

......Anda menjadi seorang yang buta
dan tuli selama dua atau tiga hari saja!

Tutup mata dan telinga selama rentang waktu
tersebut. Jangan biarkan diri Anda melihat
atau mendengar apapun.

Selama beberapa hari itu Anda tidak bisa
melihat indahnya dunia, Anda tidak bisa
melihat terangnya matahari, birunya langit, dan
bahkan Anda tidak bisa menikmati musik/radio
dan acara tv kesayangan!

Bagaimana Bro? Apakah beberapa hari cukup berat?
Bagaimana kalau dikurangi dua atau tiga jam saja?

Saya yakin hal ini akan mengingatkan siapa saja,
bahwa betapa sering kita terlupa untuk bersyukur
atas apa yang kita miliki. Kesempurnaan yang ada
dalam diri kita!

Seringkali yang terjadi dalam hidup kita adalah
keluhan demi keluhan.... Hingga tidak pernah
menghargai apa yang sudah kita miliki.

Padahal bisa jadi, apa yang kita miliki merupakan
kemewahan yang tidak pernah bisa dinikmati
oleh orang lain. Ya! Kemewahan utk orang lain!

Coba kita renungkan, bagaimana orang yang
tidak memiliki kaki? Maka berjalan adalah sebuah
kemewahan yang luar biasa baginya.

Helen Kehler pernah mengatakan, seandainya ia
diijinkan bisa melihat satu hari saja, maka ia yakin
akan mampu melakukan banyak hal, termasuk
membuat sebuah tulisan yang menarik.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran, jika kita
mampu menghargai apa yang kita miliki, hal-hal
yang sudah ada dalam diri kita, tentunya kita akan
bisa memandang hidup dengan lebih baik.

Kita akan jarang mengeluh dan jarang merasa susah!
Malah sebaliknya, kita akan mampu berpikir positif
dan menjadi seorang manusia yang lebih baik.

Selasa, 10 Agustus 2010

Mahasiswa oh Mahasiswa

Saya begitu terkesima ketika membaca buku SISTEM POLTIK INDONESIA karya dari Inu Kencana Syafiie yang mengkategorikan mahasiswa sebagai kekuatan politik di republik ini, buku ini menerangkan bahwa:

Mahasiswa merasakan betul bahwa baru saja tamat SMA begitu duduk di bangku perguruan tinggi, terasa dunia milik mereka, apalagi dengan semangat yang membara ingin memeperjuangkan dan memenengkan kebenaran, ditambah oleh kuliah oleh dosen-dosen yang idealis. (Inu Kencana Syafiie & Azhari 2005)
Saya sepakat dengan pernyataan diatas, “saya kan mahasiswa” jadinya merasakan betul pernyataan itu.

Kampus memang tempat mimbar bebas untuk mengawali kami mengenal kehidupan politik, kami mendeklarasikan partai politik kampus dan sebuah komunitas sebagai wadah pemikiran untuk mewujudkan atmosfer kampus yang kami inginkan, menggunakan sebagian fasilitas kampus sebagai tempat berdiskusi, seperti di kantin, lobby, taman kampus, masjid, lapangan dll. Ngobrolin politik emang santapan paling enak di diskusi kami, mengapa tidak yang ada di otak teman-teman adalah selain semangat nasionalisme, mereka ingin berkarya di kampus tercinta sebelum semuanya lulus kuliah. Menarik bukan?

Partai dan komunitas kami tidak memandang kebelakang, artinya kami tidak mengharuskan berfaham 1 ideologi, kami menerima faham ideology manapun asal mereka bersedia melepas ideologinya itu ketika bersama kami dan menggunakan ideologinya itu ketika tidak bersama kami, maksud saya kami tidak mau ada perang ideology yang bisa memecah belah persatuan, dan kami pun anti yang namanya bercerai-berai.

Terus bagaimana dengan teman-teman yang HEDON, apathies & cuek akan aktivitas politik di kampus, yang kerjaannya Cuma K4 (kost-kampus-kantin-kost). Atau mungkin kalau saya berpendapat bahwa kuliah bukan prioritas utama mereka, itu sebabnya mereka cuek terhadap kehidupan kampus yang sebenarnya, atau mungkin mereka menganggap aktivitas politik itu adalah omong kosong?.

Menurut saya, teman-teman mahasiswa khususnya yang dari luar pulau jawa yang kuliah contohnya di Jogjakarta seperti saya, banyak juga yang menomorduakan kuliah atau bukan menjadi prioritas utama, tetapi ke jogja Cuma ingin menginjak tanah jawa saja, ingin mengenal budaya jawa seperti apa, atau ingin terbebas dari pengawasan orang tua,ikut-ikutan karena melihat pacarnya bisa saja kan? Sosialisasi mungkin cara yang ampuh.

Tetapi mari kita berfikir positif saja, Mahasiswa apathies bukan penghalang bagi mereka untuk berkarya, bahkan mereka bisa saja dijadikan kekuatan politik yang mengerikan, seperti kami ini berawal dari mahasiswa cuek akan politik kampus yang pada akhirnya berkecimpung juga.